Sabtu, 04 April 2020

WAKTUKU UNTUKMU


Suara derah sepatu kian meninggi
Di ibukota provinsi ku hinggapi
Kuda besi berjalan terburu tak tahu malu
Sang fajar mulai menampakan dirinya
Dan jalanan mulai menunjukan kekuasaannya

Hingga matahari menepi di ujung barat
Hanya dirimu seorang yang ku ingat
Bola mata yang bulat
Serta bibir merah merona menggeliat

Dalam hidup ini dirimu mengukir kisah sejarah terhangat
Tak panas apalagi dingin
Jika dingin engkau hangatkan
Jika panas engkau sejukan
Jika hidup ini tanpamu
Seolah diriku tertancap kaku diserang suhu

Tatkala malam berbintang
Awan mendung tak terbayang
Seperti mimpi tapi bukan mimpi
Engkau jatuh dalam dekapanku
Walaupun tak di izinkan oleh waktu
Apa salahnya melawan kehendak?

Aku, kamu akan menjadi kita
Dari dulu aku selalu memikirkan kalimat itu
Apakah akan terwujud ataukah tidak
Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha untuk mewujudkannya
 

Jumat, 03 April 2020

Hujan dan Kenangan


Alunan melodi halilintar terdengar buas
Burungpun terbalut dekapan sarang
Dan udara dingin mulai menikam sampai ujung tulang
Bak tuan bersenjata yang menghempaskan parang

Rintik-rintik terburu cepat
Seperti dirimu yang tak kunjung ku dapat
Malam ini ku tuliskan dengan secarik kertas
Tentang angan laluku yang begitu buas

Hujan, angin, dan dingin membungkam
Segores pena mulai bercengkrama bersama hujan
Seolah mengiringi rintik yang menghujam daratan
Hantamannya terkandung kesunyian yang di temani kopi dan susu

Sedangkan rindu?
Ahh.. nampaknya tidak pantas diucapkan olehku
Siapa diriku?
Hanya manusia yg mencoba mengukir kisah sendu
Meskipun sajak ini akan usang dimakan waktu
Tetapi dirimu tak kunjung menghilang dari ingatanku

Hujan...
Terimakasih sudah datang
Menghempaskanku kedalam panasnya kenangan
Dimana dulu diri ini mencoba berharap pada seseorang
Lalu kian hanyut dalam derasnya peradaban